Kepribadian Seorang Pemimpin Unggulan

kepemimpinan yang unggul
Performa kepribadian pemimpin yang unggul memiliki komposisi tertentu. Di samping faktor lingkungan, kepemimpinan juga difaktori secara genetis.

Setiap pemimpin memiliki gaya yang berbeda-beda. Ada yang unggul dan ada yang biasa saja. Apa yang menentukan kepemimpinan yang hebat? Ada komposisi tertentu, namun secara garis besar ada faktor lingkungan dan genetis.

Apakah seorang pemimpin ditempa oleh lingkungan sekitarnya? Sebelum menjadi presiden Amerika Serikat, lawan-lawan politik memandang Obama dengan remeh. Apalagi terhadap slogan sederhana yang dikampanyekan oleh Obama dalam ajang politik itu. Walaupun slogan ini dicibir oleh beberapa pengamat komunikasi, namun kesederhanaannya dalam berpidato berhasil menjadikan Obama sebagai pemimpin Amerika Serikat yang populer hingga kini dan bahkan pernyataannya sering dikutip oleh media. Apakah yang menjadi kunci kecakapan dalam kepemimpinan Obama?

Menurut penelitian, ada komposisi kepribadian tertentu yang membuat seseorang lebih cakap untuk menjadi pemimpin. Komposisi tersebut terdiri dari lima faktor yakni neurotis (-28%), ekstraversi (31%), terbuka untuk pengalaman (24%), keramahan (8%) dan kehati-hatian (28%). Di antara ke lima faktor tersebut, ekstraversi adalah yang paling berhubungan dengan studi dan kriteria kepemimpinan (Judge, Bono, Ilies dan Gerhardt, 2000).

Judge, dkk. (2000:767) menjelaskan bahwa “neurotisis berarti cenderung memperlihatkan penyesuaian emosi yang tidak baik dan mengalami pengaruh negatif seperti gelisah, rasa tidak aman dan rasa memusuhi. Ekstraversi merepresentasikan kecenderungan untuk bersosial, tegas, aktif dan mengalami pengaruh positif seperti kuat dan bersemangat. Terbuka untuk pengalaman adalah watak yang penuh daya khayal, tidak suka patuh pada norma sosial, di luar kebiasaan dan otonomi. Keramahan berarti cenderung percaya, mengalah, peduli dan lemah lembut. Kehati-hatian terdiri dari dua segi yang saling berhubungan, yakni prestasi dan keandalan.”

Di dalam penelitian lain dinyatakan bahwa secara garis besar, lahirnya kepemimpinan dilatarbelakangi oleh dua faktor yakni genetis dan kepribadian. Genetis mempengaruhi variabel kepribadian sekaligus mempengaruhi jiwa kepemimpinan (Arvey, Rotundo, Johnson, Zhang dan MacGue, 2006). Ini berarti, selain tempaan lingkungan yang membentuk kepribadian pemimpin maka jiwa kepemimpinan juga lahir atau dipengaruhi secara genetis.

Bartone, Snook dan Trimble (2002) melakukan penelitian terhadap mahasiswa militer tingkat tinggi di Amerika Serikat. Penelitian ini memberikan gambaran bahwa kognisi (kemampuan logika otak) dan kepribadian dapat menjadi prediksi tersendiri terhadap performa pemimpin yang ideal. Faktor kognisi dilihat dari nilai pada mata kuliah, kemampuan pertimbangan sosial, dan alasan logis. Sedangkan faktor kepribadian yang dimaksud adalah faktor-faktor yang telah dijabarkan oleh Judge dkk. (2000) di atas.

Melalui hasil penelitian di atas, tidak semua aspek kognisi bisa memprediksi kualitas kepemimpinan seseorang. Nilai mata kuliah dapat menjadi prediksi yang kuat sebagai penentu kelanjutan perkembangan kepemimpinan perwira akademi militer. Alasan logis cukup memiliki nilai prediksi namun dianggap kurang bisa dijadikan sebagai alat ukur. Sedangkan kemampuan spasial dan pemecahan masalah tidak dapat dijadikan bahan prediksi (Bartone, 2002).

Penelitian lain menyatakan bahwa performa organisasi dapat menjadi lebih efektif apabila pemimpinnya menanamkan kepribadiannya di dalam organisasi tersebut. Misalnya, membuat organisasi menjadi lebih giat bekerja dengan menjadi teladan di bidang semangat kerja. Dengan demikian akan terjadi homogenitas atau keseragaman kepribadian dan nilai-nilai dalam organisasi. Para pegawai akan enggan meninggalkan organisasi yang cocok bagi kepribadiannya (Giberson, Dickson dan Resick, 2005). Dengan demikian organisasi yang dipimpinnya ini akan solid.

Apa yang dapat dilakukan seseorang untuk memiliki jiwa kepemimpinan? Berdasarkan paparan komposisi di atas, maka penting sekali meningkatkan pengetahuan dan intelektualitas baik di dalam maupun di luar sekolah. Aktif melakukan kegiatan sosial dengan penuh semangat. Bersikap ramah dan peduli terhadap segala masukan baik kritik maupun saran. Tingkatkan ekstraversi dengan membuka diri untuk berpengalaman dalam berorganisasi dan bermasyarakat. Pengalaman tersebut akan dapat memberikan inspirasi-inspirasi cemerlang untuk membuat sebuah action plan.


Sumber yang dipakai:
Arvey, Richard D., etal. 2006. The Determinants of Leadership Role Occupancy: Genetic and Personality Factors. Journal of The Leadership Quarterly 17, 1– 20.
Bartone, Paul T., etal. 2002. Cognitive and Personality Predictorsof Leader Performancein West Point Cadets. Journal of Military Psychology, 14(4), 321–338.
Giberson, Timothy A., etal. 2005. Embedding Leader Characteristics: An Examination of Homogeneity of Personality and Values in Organizations. Journal of Applied Psychology2005, Vol. 90, No. 5, 1002–1010.
Judge, Timothy A., etal. 2000. Personality and Leadership: A Qualitative and Quantitative Review. Journal of Applied Psychology Vol. 87, No. 4, 765–780.

Komentar

Postingan Populer