Cinta Setia


“Air mataku tak kuasa kubendung. Pengkhianatan tak terduga. Ini hasil dari setiaku?”

           Banyak Bintang bersinar di angkasa. Tapi hanya satu yang kulihat paling terang. Angin meniupkan senyum, berjalan menuju langit luas bermega hitam. Sesampainya disana, angin bertemu dengan awan mendung, menyuruhnya untuk menyingkir karena tidak ingin mataku tak melihat para bintang yang indah itu. Meskipun angin telah berjasa nyata, namun bebanku belum mampu terhenti, masih menafsirkan lembut belaian cinta segitiga dimana rajanya bernama risau. Satu pertanyaanku. Siapa sebenarnya laki-laki yang menjadi bintang dihatiku?
            Seluruh penghuni kampus tahu bahwa Karang adalah cinta matiku. Mereka bilang kami serasi, cocok menjadi sepasang kekasih. Tapi aku juga tidak memiliki cukup daya untuk menahannya pergi memburu berita dengan pekerjaannya sebagai seorang reporter. Karang cuti dari kampus, dan aku ditinggalkan bersama keseluruhan isi hatiku. Cinta dalam hati tersimpan diam-diam. Baru setelah kepergiannya, aku mulai merasakan apa yang dinamakan kesepian hati. Lima bulan lamanya kini, dadaku mulai gusar. Diantara penantianku, sosok Haruna tiba-tiba datang bersemayam menjelajahi jiwa untuk menemukan sebuah kunci hatiku. Mana mungkin aku bisa, sementara yang kutahu Haruna adalah sosok seorang sahabat yang selalu setia menemani. Dia memang perhatian, tapi kukira perhatiannya itu adalah perhatian seorang sahabat.
            Selama yang kukenal, Haruna adalah sahabat yang baik. Dia selalu ada ketika aku membutuhkannya, dan tentunya dengan kelucuan yang mampu membuat tawaku terlepaskan kembali. Aku nyaman berada didekatnya. Entah karena obrolan kami nyambung, atau karena Haruna adalah satu-satunya laki-laki yang mau menerima segala kekuranganku. Hingga dia berani mengungkapkan perasaannya, aku shock luar biasa. Namun kemudian aku mulai berpikir bahwa aku juga mencintainya, membutuhkannya dalam hidupku. Hanya dia yang mampu membuatku lupa akan cintaku pada Karang. Setelah itu hubungan antara aku dan Haruna terjalin.
            Sementara Karang, tiga hari yang lalu dia telah kembali dari tugasnya. Dia tampan, sungguh sangat bertambah tampan. Senyumnya yang masih indah semakin mempersulit keadaan. Haruna adalah kekasihku, tapi tak bisa kupungkiri kalau Karang masih membuat jantungku berdetak ketika aku berada didekatnya.
            “Sekarang siapa yang akan kamu pilih?” seribu bintang dilangit berseru menanyakan sebuah pertanyaan yang entah mampu kujawab atau tidak.
            Aku menghela napas panjang.
            “Hati adalah untuk satu orang yang mencintai sekaligus dicintai. Terkadang setia yang indah bisa saja berubah menjadi keraguan jika orang lain masuk kedalamnya. Setiamu pada Karang tergoyahkan oleh Haruna. Kini terpilih Haruna sebagai malaikat penjagamu, jangan kamu rubah setiamu pada Haruna hanya karena kehadiran karang kembali. Jangan pernah menyakiti siapapun, kawan!” setidaknya itu yang mampu kudengar dari para bintang dilangit.
            Terkesiap aku kemudian ketika terdengar suara handphone-ku berbunyi. Pesan dari Haruna. Ya ampun, aku lupa kalau malam ini ada janji dinner sama dia.
            “Aku udah nunggu kamu dua jam. Makan malamnya dibatalin aja ya”
            “Duh, maaf ya, sayang. Aku lupa kalau malam ini ada janji makan sama kamu. Kamu gak marah kan?” sending message.
            Setelah menunggu beberapa menit, Haruna membalas pesanku, “Marah sih, dikit. Tapi gak apa-apa. Salahku juga gak ngingetin kamu lagi tadi sore. Kamu udah maem?”
            Tanganku kembali bergerak cepat, “Belum” sending message lagi.
            Aku menghela nafas panjang kemudian, berpikir sejenak tentang siapa sebenarnya pilihan hatiku. Sudah kuputuskan aku ingin setia pada Haruna.
***

            Dikampus jam Sembilan pagi…

            Gara-gara kemalaman nerawang bintang, badanku jadi panas dingin. Sudah ku telpon Haruna untuk memberitahukan bahwa aku gak masuk kuliah karena gak enak badan. Tapi sekarang aku ngerasa udah baikkan. Jadi kuputuskan masuk saja.
            Setibanya dikampus, aku bertemu dengan Edo, teman sekelas Haruna.
            “Do, Haruna mana?”
            “Kantin”
            “O ya, makasi ya” kataku pergi berniat melangkahkan kaki menuju kantin.
            Ngerasa mau sakit, belum sarapan pula. Bisa gak ya jalan kekantin dengan selamat?
            “Cinta,” panggil seseorang hingga membuat langkahku terhenti. Hanya satu orang yang berani memanggilku dengan nama itu, “Mau kemana?” tanyanya membuat tubuhku bergetar.
            Aku bengong ditempatku.
            “Loh, malah ngelamun. Kamu mau kemana, dik?”
            “Namaku, Theisya, kak. Bukan Cinta”
            “Aku udah kebiasaan manggil kamu Cinta, dan itu sudah gak bisa diubah-ubah lagi”
            “Tapi kukira kakak udah lupain aku”
            “Lupain gimana maksudmu?”
            Titik. Lidahku sudah kelu diam tak bergerak. Bodoh kukira kalau Karang juga memiliki perasaan yang sama. Dari dulu hingga sekarang aku dianggap adik. Jadi mungkin saja panggilan Cinta hanya panggilan untuk seorang saudara yang disayanginya.
            “Kamu mau kemana?”
            “Kantin”
            “Aku ikut”
            Akhirnya aku dan Karang jalan samaan menuju kantin. Tapi betapa kagetnya aku ketika pemandangan yang kulihat berbeda dari yang biasanya. Haruna, merangkul Yenni mesra.
            Lemas langkahku, “Haruna” panggilku pelan namun terdengar.
            Haruna spontan terhentak.
            Air mataku tak kuasa kubendung. Pengkhianatan tak terduga. Ini hasil dari setiaku? Jika kutahu begini gak mungkin dia kuterima sebagai pengisi dihatiku. Sakit sekali rasanya. Apalagi Karang dengan mudahnya mampu melihat adegan perselingkuhan Haruna yang membuat seluruh hidupku retak. Aku malu, setengah mati malu pada diriku sendiri.
            “Kita putus” ucapku lalu kemudian pergi.
            Gak adil. Apa ketulusan sekarang sudah bisa dicampur-adukkan dengan dusta? Selama yang kutahu cinta itu seperti berkerubung ditengah hujan bintang jatuh, memberikan kedamaian, bukan kesakitan seperti ini. Aku ingin pergi sejauh mungkin biar Haruna puas, biar orang-orang bosan mentertawakan kebodohanku karena mempercayai ketulusan cinta.
***

            “Dari dulu tempat menyepi kamu memang selalu disini, pantai” ucap seseorang menghentikan tangisanku.
            “Kalau kakak kesini cuman mau ngomongin tentang Haruna, kakak mendingan pergi aja! Aku gak mau ngomongin tentang penghianat itu”
            Karang berdiri tegap didepanku. Dia tersenyum, dan senyum itu yang membuat hatiku damai, bahkan sangat damai. Kusadar bahwa ketulusan lebih berpihak pada sorot mata Karang.
            “Cinta, kakak gak mau lihat kamu sedih begini” Karang mengusap air mata dikedua pipiku, “Kakak bahagia dengar kamu berhenti mengharapkan kakak dan pacaran sama Haruna”
            “Kakak pikir sekarang aku bahagia?”
            “Maaf ya, kakak udah nyakitin kamu”
            Aku terdiam mendengar ucapan Karang? Rasanya aku tidak ingin mempercayai ucapannya yang ngelantur.
            “Kakak pulang hanya ingin memberitahukan kamu satu hal”
            “Hal apa?”
            “Kakak mencintai kamu”
            Hatiku bergetar mendengar kalimat terakhir Karang. Apa katanya? Dia mencintaiku? Oh Tuhan, seumur hidup baru sekali ini aku merasakan kecewa dan bahagia yang datang bersambut secara bersamaan. Bahagia ketika tatapan mata Karang yang teduh membuat tubuhku tertotok diam. Tatapan yang semakin mendekat, lalu secara sadar terkecup bibirku dengan rasa yang sungguh luar biasa bahagia. Karang, untuk pertama kalinya berani mencium bibirku. Bagaimana bisa aku mempercayai semuanya?
            “Terimakasih kamu sudah memberikan kakak kesempatan mengatakan ini sama kamu. Sekarang kakak harus benar-benar pergi” ucap Karang lalu kemudian menghilang seiring terbukanya mataku karena bunyi nada dering handphone-ku. Hah? Jadi semuanya cuman mimpi?
            “Halo,” kataku menjawab telpon Haruna.
            “Sayang, ada berita duka. Karang meninggal karena kecelakaan pas jalan pulang kesini” suara panik Haruna yang langsung menjadi dengungan keras dikupingku. Air mataku terkuras setelah ini. Entah bagaimana Kuasanya Tuhan menuliskan alur cerita cintaku.
           

Komentar

Postingan Populer