Bergosip Ternyata Bermanfaat?


Gosip dapat memiliki manfaat yang berarti baik bagi seseorang maupun bagi sekelompok orang.

Gosip dapat berisikan informasi tentang kebaikan maupun keburukan orang lain. Dari hal itu, gosip merupakan perpanjangan sehingga seseorang dapat mempelajari situasi sosial dengan efektif.

Seberapa seringkah kamu bergosip, baik disadari atau tidak? Beberapa tahun belakangan ini, jumlah acara infotainment semakin bertambah seiring bertambahnya jumlah stasiun TV. Bahkan satu stasiun televisi tidak cukup menayangkan satu acara infotainment dalam sehari. Sebagaimana yang dilansir oleh Dailymail, menurut penelitian pada umumnya wanita menghabiskan lima jam untuk mengobrol dan bergosip dalam sehari. Bukankah gosip kerap kali diidentikkan dengan wanita? Tetapi tahukah kamu bahwa ternyata bergosip memiliki manfaat baik untuk laki-laki maupun perempuan?

Berkenaan dengan karakteristik final dari gosip itu sendiri, Foster (2004:83) meringkas definisi gosip yakni “gosip adalah pertukaran informasi personal (positif maupun negatif) dengan cara mengevaluasi (positif maupun negatif) tentang pihak ketiga yang tidak hadir.” Tidak jauh berbeda dengan itu, Baumeister, Zhang dan Vohs, (2004:111) mendefinisikan gosip sebagai salah satu cara belajar dengan memperhatikan orang lain, kita bisa belajar dari keberhasilan dan kemalangan orang lain.

Maksudnya begini, seseorang bisa sampai digosipkan karena ada hal luar biasa yang dia lakukan. Misalnya dia melakukan hal yang luar biasa, dengan menggosipkan hal ini kita jadi tahu apa yang dapat menyentuh hati kebanyakan orang. Di masa depan, kita bisa melakukannya untuk menyenangkan orang lain. Kalau dia melakukan kesalahan, dengan menggosipkannya kita jadi tahu apa-apa saja yang sebaiknya tidak dilakukan di suatu komunitas jika kita tidak mau dicemooh.

Gosip juga mengandung manfaat sebagai alat perbandingan sosial sambil menghindari keadaan memalukan maupun permusuhan atau pertentangan. Sehingga gosip bukan untuk melanggar privasi tetapi sebagai alat pelindung norma sosial (Foster, 2004). Dalam penelitian ditemukan bahwa topik sosial tentang orang ke-tiga adalah topik yang memakan dua-pertiga waktu pembicaraan manusia, baik laki-laki maupun wanita. Dengan kata lain 70% waktu pembicaraan berisi gosip. Hanya sebagian kecil (kurang dari 5%) berisi komentar kritis tentang pihak ke-tiga. Selain itu, ada sedikit bukti empiris bahwa wanita lebih banyak bergosip daripada laki-laki (Foster, 2004).

Coba kamu bayangkan bahaya narkoba. Tidak semua remaja tahu bahayanya sehingga mereka bisa terlibat narkoba. Kira-kira, bagaimana cara agar mereka menghindari narkoba?  Tanpa disadari, gosip dapat menjadi alat bantu bagi kita untuk memahami situasi normatif di lingkungan sekitar. Dengan kata lain, gosip dapat kita gunakan sebagai alat untuk mempelajari norma-norma yang berlaku di lingkungan sekaligus sebagai alat regulasi (Baumeisterdkk, 2004).

Dari contoh kasus ini, kita tak harus melihat langsung korban narkoba. Kita dapat memahami situasi bahaya narkoba dengan mendengar orang lain yang membicarakan keburukan yang dialami korban narkoba yang telah dikucilkan dan bahkan dikarantina tersebut. Dengan mendengar gosip itu, maka cukup bagi kita untuk mengetahui bagaimana agar kita dapat diterima di lingkungan.

Manfaat gosip dalam kelompok adalah “dapat menjadi cara yang efektif untuk mengungkap informasi tentang penipu (yaitu, mereka yang mementingkan kesejahteraan sendiri) dan untuk mengendalikan perilaku mereka demi kesejahteraan terbaik bagi kelompok secara menyeluruh” (McAndrew, Bell dan Garcia, 2007:1563). Sehingga dapat dikatakan bahwa, gosip digunakan untuk mengatur kelompok secara diam-diam agar menjalankan norma-norma yang berlaku dalam kelompok ketika salah seorang telah gagal memenuhi harapan kelompok (McAndrewdkk, 2007). 

Mungkin kamu pernah mendengar anggota kelompokmu membicarakan keburukan anggota lain? Di sinilah kita bisa memanfaatkan gosip untuk mengingatkan kita agar tidak melampaui batas norma dalam kelompok sebab gosip juga dapat menjadi alat untuk menghukum anggota yang menyimpang (McAndrewdkk, 2007).

Kekuatan gosip bahkan juga merambah sampai dunia kerja. Kniffin dan Wilson (2005:280) menyatakan “gosip telah diakui sebagai garis penting pertahanan terhadap pelanggaran norma-norma perusahaan.” Karena gosip sebagai alat kontrol sosial memiliki dua sisi, yakni memperbaiki perilaku seseorang atau menolak perilaku seseorang. Maka dalam sebuah perusahaan, gosip dapat dimanfaatkan untuk mengingatkan karyawan agar tidak melanggar norma perusahaan demi menghindari gunjingan karyawan lain. Gosip juga menjadikan karyawan fokus untuk berkontribusi yang baik sehingga keberhasilannya dapat menjadi buah bibir bagi karyawan lain.

Sumber yang dipakai:

Baumeister, Roy F., etal. 2004. Gossip as Cultural Learning. Journal of Educational Publishing FoundationVol. 8, No. 2, 111–121.

Foster, Eric K. 2004. Research on Gossip: Taxonomy, Methods, andFutureDirections. Journal of Educational Publishing FoundationVol. 8, No. 2, 78–99.

Kniffin, Kevin M. dan Wilson, David Sloan. 2005. Utilities of GossipacrossOrganizationalLevels. Journal of Human Nature Vol. 16, No. 3, 278-292.

McAndrew, Francis T., etal. 2007. Who Do WeTellandWhom Do WeTell On? Gossip as aStrategy for Status Enhancement. Journal of Applied Social Psychology, 2007, Vol. 37, No. 7, 1562–1577.

Dailymail. 2011. The natteringclasses! Women Gossip for FiveHoursEvery Day, Claims Study. http://www.dailymail.co.uk/femail/article-2025905/Women-spend-hours-EVERY-DAY-gossiping-claims-study.html diakses pada tanggal 20 Maret 2014.

Komentar

Postingan Populer